Kamis, 12 September 2013

Kewajiban Menuntut Ilmu Syar'i



Bismillah, Apa yang dimaksud ilmu dalam hadits ini ? Ilmu Dunia atau Ilmu Akhirat (Agama)? Mari kita sedikit mengkaji hadits ini. :)

Salah satu Hadits yang berhubungan dengan hadits diatas yaitu,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ وَالْحِيتَانُ فِي جَوْفِ الْمَاءِ وَإِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
Barangsiapa meniti satu jalan untuk mencari ilmu, niscaya –dengan hal itu- Allah jalankan dia di atas jalan di antara jalan-jalan surga. Dan sesungguhnya para malaikat membentangkan sayap-sayap mereka karena ridha terhadap thalibul ilmi (pencari ilmu agama). Dan sesungguhnya seorang alim itu dimintakan ampun oleh siapa saja yang ada di langit dan di bumi, dan oleh ikan-ikan di dalam air. Dan sesungguhnya keutamaan seorang alim atas ahli ibadah seperti keutamaan bulan purnama daripada seluruh bintang-bintang. Dan sesungguhnya para ulama itu pewaris para Nabi. Para Nabi itu tidak mewariskan dinar dan dirham, tetapi mewariskan ilmu. Barangsiapa yang mengambilnya, maka dia telah mengambil bagian yang banyak." (HR. Abu Dawud no. 3641 dan ini lafazh-nya; Tirmidzi no. 3641; Ibnu Majah no. 223; Ahmad, 4/196; Darimi no. 1/98. Dihasankan Syaikh Salim al-Hilali di dalam Bahjatun Nazhirin, 2/470, hadits no. 1388)
Kita perhatikan hadits yang agung ini. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan keutamaan menuntut ilmu pada awal kalimat, dan keutamaan alim (orang yang berilmu) pada pertengahan kalimat, lalu pada akhir kalimat beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan, bahwa ilmu yang dimaksudkan adalah ilmu yang diwariskan para Nabi, yaitu ilmu agama yang haq!

Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Telah diketahui bahwa ilmu yang diwariskan oleh para Nabi adalah ilmu syariat Allah ‘Azza wa Jalla, bukan lainnya. Sehingga, para Nabi tidaklah mewariskan ilmu teknologi dan yang berkaitan dengannya kepada manusia.” (Kitabul Ilmi, hal. 11, karya Syaikh al-Utsaimin).

Ini bukan berarti bahwa ilmu dunia itu terlarang atau tidak berfaidah. Bahkan, ilmu dunia yang dibutuhkan oleh umat juga perlu dipelajari dengan niat yang baik.

Beliau juga berkata, “Yang kami maksudkan adalah ilmu syar’i, yaitu ilmu yang yang diturunkan oleh Allah kepada Rasul-Nya, yang berupa penjelasan-penjelasan dan petunjuk. Maka, ilmu yang mendapatkan pujian dan sanjungan hanyalah ilmu wahyu, ilmu yang diturunkan oleh Allah.” (Kitabul Ilmi, hal. 11, karya Syaikh al-Utsaimin).

Melihat penjelasan tadi, kita dapat menarik kesimpulan bahwa yang wajib itu ilmu Agama, dan bukan ilmu duniawi yang tidak akan dibawa ke akhirat kelak. Oleh karena itu sebagai muslim yang bertakwa kita harus menggugurkan salah satu kewajiban kita ini, caranya dengan mendatangi majelis majelis i'lmu yang berlandaskan Al-Qur'an dan As-Sunnah dan pemahaman para salafusshalih.

Semoga artikel ini bermanfaat, dan memotivasi kita untuk bersemangat mendatangi majelis - majelis ilmu. Allahua'lam

sumber : http://pengusahamuslim.com/



 

0 komentar :

Posting Komentar